Diskusi Hangat bersama Pemerhati Masalah Gender di Surabaya

Surabaya,  13 Juli 2017.  Dalam rangka menambah wawasan dan pemahaman mengenai beragam masalah kesetaraan gender di Surabaya, Kamis, 13 Juli 2017 lalu sejumlah personil yang tergabung dalam Tim Kerja Pengarusutamaan Gender KPPBC TMP Tanjung Perak mengunjungi salah satu pemerhati masalah gender di Surabaya, Nurwulan, Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Budaya Universitas  Airlangga.

Kedatangan Tim kerja PUG KPPBC TMP Tanjung Perak yang digawangi oleh Lenni Ika Wahyudiasti, selaku Kepala Subbagian Umum sekaligus Ketua Tim Kerja PUG yang dibentuk sejak tahun 2016 tersebut disambut hangat oleh Nurwulan di ruang kerjanya di salah satu gedung di Kampus B Universitas Airlangga. “Gender adalah konstruksi sosial mengenai peran laki-laki dan perempuan,” tutur Nurwulan membuka diskusi hangat siang itu. “Kesetaraan gender  bisa jadi merupakan pertukaran peran antara laki-laki dan perempuan di masyarakat,” lanjutnya lagi.

“Äpakah kesetaraan gender sama dengan emansipasi, Bu?” Sebuah pertanyaan kritis terlontar dari salah seorang anggota Tim PUG kantor yang tahun ini didaulat mewakili DJBC dalam Lomba Implementasi PUG tingkat Kementerian Keuangan Tahun 2017 ini dalam diskusi tersebut.

“Emansipasi merupakan bagian dari isu gender,” ujar Nurwulan. “Oleh karena itu, andil laki-laki amat besar sebagai pembuka kesempatan perempuan untuk berperan banyak dalam proses pembangunan,” tutur dosen Sastra Inggris yang juga melakukan riset studi maskulinitas sebagai salah satu bentuk kepeduliannya terhadap masalah kesetaraan gender di Surabaya ini. Menurut ibu dua anak ini, pemberdayaan laki-laki dan perempuan harus sama. Tak hanya perempuan, lelaki pun bisa mengalami marginalitas karena tuntutan sosial yang tinggi dalam masyarakat.  Oleh karena itu, lelaki harus mempunyai banyak peran yang berbeda dari konstruksi sosial masyarakat pada umumnya sehingga tetap bisa survive dalam kondisi apapun. “Saya tertarik dengan studi maskulinitas ini karena penelitian terkait maskulinitas sangat jarang untuk dilakukan. Kebanyakan peneliti lebih kepada studi perempuan baik feminisme maupun femininitas. Isu mengenai laki-laki yang dipresentasikan sangat sedikit yang membahas. Padahal tak mungkin kesetaraan gender diperoleh jika hanya perempuan saja yang diberdayakan tanpa menyinggung maskulinitas,” jelas perempuan cantik yang biasa disapa Wulan ini. Tak pelak, diskusi pun kian hangat dan mencerahkan.

“Di sisi lain, perempuan pun amat perlu diberi ruang untuk aktualisasi diri, diberi waktu untuk mengubah masyarakat serta diberi kesempatan untuk menjadi rahmatan lil álamiin,” pungkas Wulan di penghujung diskusi.

Menjelang petang, diskusi diakhiri dengan foto bersama di depan Gedung Fakultas Ilmu Budaya yang terletak di bilangan Dharmawangsa, Surabaya.

Dokumentasi Kegiatan :